Saturday, July 11, 2009

How to Write a Fantasy Story?

0 comments
I found some info here to share with all of you..^_^

Steps:

1. Decide what you want to write. A short children's story? A novella? A full blown fantasy epic? If it's your first writing project, start small, and don't overwhelm yourself.

2. Develop a plan of characters and plot for your story. Make your characters complicated, make them real and let them have a personality and a life. Think of fantasy stories you have already read and what you liked about these. Even better - go to the source. Authors such as Tolkein and Rowling borrow heavily from traditional myths and legends, and doing the same is the best way to avoid ripping off the best sellers.

3. Move from reality into fantasy. Will your characters start off in the real world and discover the magical elements hidden beneath the surface? (Harry Potter) Will they be transported into a world where all the rules are different? (Chronicles of Narnia) Or will they start off in a world entirely different from our own, and go on noble quests to slay dragons and defeat evil? (Lord of the Rings)

4. Create the world. Add things such as talking animals, dragons or even dinosaurs, along with magic. You can make up your own magical species, or use ones borrowed from folklore, or even not have any at all. The same goes for magic. Try to avoid cliches as much as possible - twist and subvert them.

5. Write. Just write. Don't just write the story, but write histories of your characters, unrelated shorts, and anything else you can think of to flesh out your characters and your world. If you have the plot and an outline in mind, then write out the rough draft first - and only when you're done should you go back and edit.

6. When you're finished and ready to start editing, create a checklist to work from:
* Is your plot feasible, at least according to the rules you've set up? Do you explain things enough to create willing suspension of disbelief?
* Is your world and the rules it's based upon consistent?
* Are your fantasy characters identifiable, well-described and interesting?
* Is your theme subtle but well-developed? If you include a moral in your work present it subtlety.
* Is your style and diction consistent and appealing to your target audience?

7. Finally, let others read your work. It can be just a few close friends at first, but once you start getting good criticism and you start building confidence, you might want to consider trying to publish

8. It's good to look for other books for inspiration.

9. Having a story use symbolism can be good, just don't go too out of hand where no one knows what the original topic was, or what your talking about.

10. Don't use too many advanced terms, it can spoil the story. Displaying a bit of superb vocabulary is alright, but don't make the story filled with words only 1% of population know.


Tips:

* Be creative with your settings. Underground dungeons and medieval castles aren't the only places you can find dragons.

* Avoid info dumping. If you make your character complicated, don't begin the book with seven pages of introduction to them. Same with the world. Spread information throughout the story: this heightens suspense and makes your book a joy to read.

* Making a character is like making an imaginary friend: make sure that it is believable that the person is real. Become the person and write down what you think they might say and do. Make sure your character has flaws, rather than a perfect character so the book doesn't get boring.

* Think of verbal and gesture tags for your main character(s) - nail-biting, hair-twirling, calling everyone "love", and catchphrases can all really help with characterization. Moderation, however, is still key.

* Think of fitting names for your characters. For exotic species, use exotic sounding names, for mysterious characters, use mysterious sounding names, and et cetera.

* If you're having a hard time coming up with an idea, borrow from the classics. That is, after all, where Shakespeare got many of his ideas. But don't just rip-off someone else's writing. Add twists, turns, sub-versions, deconstructions, and your own unique spin.

* Don't use an excessive amount of magic. Even if your world is very magic rich, using magic to get out of every scrape becomes very boring after a while.

* If you want, you can take a book or fairy tale everyone knows and change it into a new, one-of-a-kind creation.

* Try to enhance your story by thinking of ways to compare one thing to another.

* Write about something you have experienced it's a lot easier to write about

* Use a thesaurus!

* Try drawing your characters if you are having trouble describing them. Even if you are not an artist, this helps to order your thoughts!


Okay! That's it!! English' version i guest,hmmm.. I hope that one day, i will have courage and able to write thousands of fairy tales story but in my own version, as a Muslim, and interesting for children as their bed time story book.. amin...^_^

Sunday, June 7, 2009

Noktah Cinta Episod 3

0 comments
Sudah lebih sebulan Ayahanda kembali ke rahmatullah. Bonda pula masih terlantar di katil, sepi tanpa sepatah bicara. Tidur nyenyak namun mengundang resah di hati Sofea Camelia. Setiap detik dan saat dia menanti penuh sabar agar Bonda kesayangan membuka matanya.

Sudah lama mereka terpisah, dan kini setelah bertemu semula, Ayahanda pergi meninggalkannya buat selamanya dan Bonda pula koma, terlantar lemah. Bahagia yang dikecapinya hanya sementara, ibarat embun pagi di hujung rumput, bila mentari terbit, embun pun hilang. Hadir Cuma seketika. Sofea Camelia benar-benar berasa sangat hiba, sedih dan terseksa.

Sejak kembali ke Kota Exora, hidupnya berubah 180 darjah. Ibarat burung di dalam sangkar emas. Segalanya cantik menawan namun jiwanya terseksa. Kebebasan yang dikecapinya selama ini terganggu-gugat. Ke mana sahaja melangkah, pasti di iringi pengawal peribadi. Bukan seorang dua malah hampir mencecah sepuluh orang. Sungguh menyesakkan. Meresahkan. Tiada lagi kebebasan buatnya bergerak ke mana saja mahunya. Bagai Puteri Lindungan Bulan. Merimaskan. Tiada lagi privasi. Kecuali ketika di dalam kamarnya sahaja dia di benarkan berseorangan, hanya itu ruang rangkum privasi buatnya. Benar-benar menyeksakan.

Selesai bersolat Asar, Sofea Camelia menadah tangan memohon dan merayu kepada Tuhan Sang Pencipta. Betapa dia yakin kepada kekuasaan Allah, sungguh banyak aduan dibuat, sungguh banyak dia memohon, semoga Arwah Ayahanda ditempatkan dalam golongan yang diredhai Allah, semoga Bonda kembali pulih, dan semoga semua rakyat Kota Exora aman damai..

Manik jernih mengalir keluar dari kelopak matanya. Sofea Camelia masih menghadap kiblat memohon doa. Hanya kepada Dia tempat mengadu dan bermohon. Setelah beberapa ketika menadah tangan, akhirnya Sofea Camelia menamatkan doa dengan berselawat ke atas Nabi Muhammad S.A.W.

Sejadah dilipat perlahan lalu digantung di tempatnya. Sofea mengatur langkah menuju meja tulisnya. Ekor matanya terpandangkan laptop merah miliknya yang sudah lama tidak bersentuh. Dia melabuhkan punggung ke kerusi lalu jarinya menekan butang pada computer riba miliknya itu. Skrin bercahaya dan kini siap digunakan. Sofea Camelia memulakan pelayaran di alam maya yang sudah lama ditinggalkan.

Tiba-tiba ada seseorang menegurnya melalu Yahoo Messenger.

Salahuddin Ayubi: Assalamualaikum wbt..

Sofea Camelia sekadar membaca pesanan itu, menjawab salam di dalam hati dan membiarkan pesanan itu tidak terbalas. Dia tiada hati untuk berbicara dengan sesiapa pun di waktu itu. Dia mahu bersendirian. Dalam dunianya yang tersendiri. Banyak sungguh persoalan demi persoalan bertalu-talu mengetuk kotak mindanya. Soalan tanpa jawapan kadangkala membuatkan Sofea berasa sungguh sesak.

Kadangkala, ingin saja dia lari dari dunia ini, pergi ke mana sahaja, ke mana sahaja asalkan bukan di sini. Bumi ini, kota ini terlalu kejam. Terlalu menjerat leher mengikat langkah kakinya. Ada masanya Sofea Camelia berasa lemah yang teramat.. Kepada Tuhan dia menggantung harapan.

Kepada Tuhan dia mengadu dan memohon. Sofea Camelia memejamkan matanya rapat. Cuba mengosongkan fikiran. Beberapa detik, air jernih mengalir dari celahan kelopak matanya. Ah..air mata teman yang paling setia, sering saja datang mendamping walau tanpa di pinta...Air mata...dengarlah rintihan ku..

Noktah Cinta Episod 2

0 comments
Awan mendung berarak lesu seakan mengerti rintihan pilu gadis bernama Sofea Camelia. Mentari petang pula seolah-olah tidak sanggup menyaksikan kesedihan yang sedang menjerat anak gadis itu, bagaikan menyembunyikan wajahnya di balik awan.

Mata Sofea Camelia bengkak dan merah. Wajahnya sarat menanggung derita. Airmata kini sudah berhenti mengalir namun sisa sendu masih berbaki. Sekali sekala bahunya terhinjut-hinjut menahan tangis. Hadirin yang datang kian beransur meninggalkan kawasan perkuburan seorang demi seorang. Kesemuanya berwajah sugul dan suram sekali.

Sofea Camelia mendongakkan wajahnya apabila sedar bahunya disentuh seseorang. Bibirnya dikunci rapat menahan getar. Anak matanya menangkap imej seorang wanita di sebelahnya. Wanita yang berwajah sayu itu sedang menatapnya penuh rasa simpati. Sendu yang ditahan-tahan kini tidak lagi mampu disembunyikan. Airmata yang bertakung di kolam matanya kini sudah melimpah-limpah menunggu masa mengalir laju keluar dari celahan kedua kelopak matanya.

Sofea Camelia tewas, dalam pelukan Amina Jasmine dia meluahkan segala rasa yang terpendam. Sofea Camelia menangis teresak-esak, Amina Jasmine juga berasa hiba namun demi menyuntik semangat Sofea Camelia, dia harus berlagak kental. Perlahan-lahan dia mengusap belakang Sofea Camelia. Penuh sifat keibuan.

“Bersabarlah sayang, jangan menangis lagi…Ajal maut semuanya takdir Tuhan, dariNya kita datang, kepadaNya kita kembali..usah menangis lagi sayang..biarlah Ayahanda bersemadi dengan aman, beristighfarlah sayang..hidup mesti diteruskan walau tanpa arwah..tabahkan hati..” Perlahan-lahan Amina Jasmine membisikkan kata-kata semangat kepada Sofea Camelia. Sekali-sekala diselitkan dengan kata-kata nasihat, petikan ayat dari Quran yang suci. Dia yang membesarkan Sofea Camelia, pastinya dia amat memahami gelora derita yang sedang tertanggung di pundak gadis itu. Jika Tuhan izinkan, ingin rasanya dia memikul separuh bebanan agar dapat mengurangkan sengsara gadis itu. Dia sayangkan Sofea Camelia. Benar-benar sayang.

Sofea Camelia memaksa diri agar segera berhenti menangis. Sungguh sukar sekali. Bahunya terhinjut-hinjut menahan tangis. Dia juga harus memujuk dirinya. Dia juga sedar sebagai hamba dia harus menerima suratan takdir Ilahi dengan penuh kepasrahan. Dia percaya kepada Qada’ dan Qadar. Akhirnya Sofea Camelia kembali bersuara.

“Sofea tahu Ummi..Sofea juga tak mahu menangis, tapi airmata ini tetap tak mahu berhenti mengalir… Sofea sedih Ummi.. Sofea…” Lemah suara Sofea Camelia melantun keluar dari bibirnya yang merah merekah.

“Kenapa secepat ini Ayahanda pergi meninggalkan Sofea.. Sofea belum puas memeluk Ayahanda, Sofea belum puas mendengar gelak tawa ayahanda.. Sofea belum puas mendengar kata nasihat ayahanda, Sofea sayangkan Ayahanda.. Sofea perlukan Ayahanda…” Suara Sofea Camelia bergetar. Amina Jasmine sekadar menganggukkan kepalanya sebagai tanda dia mengerti apa yang ingin diluahkan oleh gadis dalam pelukanya itu. Tanpa berputus asa dia terus membisikkan kata nasihat dan mengingatkan Sofea Camelia mengenai Qada’ dan Qadar.

Beberapa detik berpelukan dalam tangisan. Akhirnya Sofea Camelia meleraikan pelukannya. “Terima kasih Ummi, for everything, Sofea masih ingat Ummi pernah bagitahu Sofea, Allah berikan dugaan kepada Sofea kerana Dia Maha Mengetahui. Dia tahu Sofea boleh mengharungi rintangan ini. Dia tahu Sofea kuat, Sofea boleh. Bukankah Dia hanya memberi dugaan hanya kepada hambaNya yang mampu. InsyaAllah Ummi, Sofea tak apa-apa. Berkat didikan Ummi, insyaAllah..” Kata-kata itu terlafaz dari bibir Sofea Camelia membuatkan Amina Jasmine berasa sedikit lega. Syukur kepada Ilahi. Alhamdulillah.

Kini Sofea sudah mampu berpijak di alam nyata. Setiap yang hidup pasti akan mati. Innalillahiwainnailaihirajiun.. Amina Jasmine memeluk bahu Sofea Camelia erat. “Sayang, kita tidak boleh lama di sini. Kita harus segera pergi,” Amina Jasmine berbisik kepada Sofea Camelia. Sofea angguk tanda mengerti, buat kali terakhir dia menadah tangan menghadiahkan rangkaian doa buat arwah ayahanda tersayang.

Hatinya berat untuk melangkah pergi namun dia sedar, demi kebaikan dirinya, dia tidak boleh terlalu lama di situ. Dia benar-benar maklum mengenainya. Amina Jasmine mengatur langkah, dengan lemah Sofea Camelia mengekor dari belakang. Beberapa langkah di atur, hampir sepuluh orang lelaki berbadan sasa lengkap bersenjata mengelilinginya. Mereka melangkah seiringan.


Friday, June 5, 2009

Noktah Cinta.

4 comments
January 2008

Di bawah terik mentari Haris menyumpah seranah. Demi mengelak seorang gadis yang berlari meluru melintas jalan, kereta merah kesayangannya terbabas masuk ke longkang, tayar hadapan sebelah kiri akhirnya pancit.

Haris betul-betul marah. Namun belum sempat dia meluahkan amarahnya, si gadis sudah pun menangis. Dan mungkin sebenarnya sudah lama menangis kerana matanya merah dan bengkak. “Argh, perempuan!semuanya sama saja! Suka jadikan airmata sebagai senjata!” rungut Haris di dalam hati. Tanpa rasa belas.

Tanpa mengucapkan sebarang kata maaf, si gadis terus menangis teresak-esak. Haris kian berasa jengkel. “Itu belum lagi sakit berdarah!” rungutnya di dalam hati. “Kalau macam ni perangai ko, mati lagi baik lah!” tak putus-putus dia menyumpah seranah di dalam hati. Namun sekadar bergema di dalam hatinya saja, untuk meluahkan dia tidak tergamak, jauh di lubuk hatinya masih ada sekelumit rasa simpati. Sedikit.

“Ko buta ker? Berapa ko nak bayar nie? Kereta aku bukan murah!” Setelah bosan menyaksikan drama gadis di hadapannya, Haris akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. Gadis itu masih menangis, sekadar menggeleng-gelengkan kepalanya. Haris berasa sebal.

“Sekarang saya tiada wang, ini nombor telefon saya, nanti bagitau nombor akaun, saya akan masukkan wang gantirugi ke dalam bank saudara..”Akhirnya dia bersuara. Ada sendu di dalam suaranya yang lemah itu. Dia mengeluarkan sebatang pen lalu menulis beberapa angka pada sehelai kertas kecil kemudian menyerahkannya kepada Haris.

“Hubungi saya nanti, saya minta maaf, memang salah saya” gadis itu bersuara lagi kemudian berlalu meninggalkan Haris. Haris terpinga-pinga. “Mudahnya! Hey..” Dia cuba memanggil malangnya gadis itu terus berlalu pergi. Gadis itu sudah tiada. Tinggal Haris seorang diri. Sisa-sisa kemarahan masih lagi bersarang di dadanya. Geram dengan sikap gadis itu. Bengang memikirkan bagaimana harus di lakukan dengan keretanya dan bertambah mendidih darahnya di bakar perit mentari.

“Damn..aku dah lambat!!Spare tyre plak takde, haih! Kena pulak hari ini tertinggal telefon. Malang betullah!” marah Haris sendirian, lantas kakinya menendang tayar kereta yang kaku tidak bergerak berkali-kali. Setelah tendangan ke lima barulah dia berhenti kerana rasa sakit mula menyengat pada bahagian buku lalinya. Dia benar-benar dalam amarah.

Berkali-kali dia menatap jam tangan Swatch pemberian ibunya yang terlekat di pergelangan tangan kirinya. “Habislah aku kali ini!” rungutnya berulang kali.

Setelah hampir dua jam menanti di bawah sinar terik mentari, baju pula lencun dibasahi peluh, barulah ada kereta sewa yang lalu di situ. Kelam kabut Haris menerobos perut kereta lantas memaksa si pemandu memecut menuju ke university. Namun malangnya, sebaik tiba di dewan peperiksaan, semua pelajar sudah bersiap-siap untuk menghantar kertas jawapan.

Positif, dia terlepas untuk menduduki peperiksaan penting pada hari itu. “Ah, semuanya gara-gara perempuan itu!” marahnya di dalam hati setelah rayuannya untuk meneruskan peperiksaan pada petang itu di tolak oleh pensyarahnya. Haris benar-benar menyalahkan gadis tersebut.“ Siap kau nanti perempuan, kalau jumpa lagi nahas la kau!” ada dendam berlubuk di mukim hatinya.
_______________________________________________________

InsyaAllah akan di sambung..


Thursday, June 4, 2009

Pena Menari.

0 comments
Berbicara soal cita, sementara jasad masih bersatu dengan nyawa. Di sini, hari ini, pena ini menari lagi. Kala ini, detik ini, hati ini berlagu resah irama gelisah. Ada hasrat inginku luahkan. Di sini, lembaran ini, aku menyusun huruf menjadi perkataan lalu ku cantumkan perkataan mencipta ayat, meluahkan makna hati. Ku pintal-pintal ayat mencipta perenggan lalu ku satukan perenggan menghasilkan sebuah kisah. Kisah antara realiti dan fantasi. Antara maya dan nyata.

Pena ini menari lagi. Huruf yang sama namun di susun berbeza mencipta perkataan yang berbeza. Perkataan yang sama namun di atur berbeza menghasilkan ayat yang berbeza. Ayat yang sama di gubah berbeza mencetuskan perenggan yang berbeza dan perenggan yang sama di olah berbeza akhirnya membuahkan cerita yang berbeza.

Ada apa pada huruf. Ada apa pada aksara? Ada apa pada konsonen? Ada apa pada imbuhan? Ada apa pada tatabahasa? Ada apa pada laras bahasa? Ada apa pada penaku? Saat ini, detik ini..aku tidak mampu menjawab, biarkan saja..biar dulu, hingga sampai masanya, pastu ku temui jawapan. Dengan izin Allah.

Followers

 

*Bila Pena Menari Copyright 2009 Fashionholic Designed by Ipiet Templates Sponsored by Tadpole's Notez